S
|
ehabis olahraga, aku dan kawan-kawan ganti baju
ketika bel masuk setelah istirahat. Tak disangka ada Bu Tutik , aku dan
kawan-kawan dimarahin sama Bu Tutik gara-gara ganti baju saat bel masuk. Aku
dan kawan-kawan langsung ganti baju di teras masjid An Nur SMAN 5 Jakarta.
Setelah ganti baju, tibalah pelajaran yang paling bikin aku pusing, ialah Fisika.
Aku sudah lelah, laper, haus, dan pusing memikirkan pelajaran. Fisika
berlangsung selama tiga jam. Beeeeeh, sungguh melelahkan.
Bel
berbunyi pertanda ganti pelajaran, pelajaran selanjutnya adalah Kimia, tanpa
disadari ada tugas dan PR yang belum aku kerjakan, waduuh gawat nih.
“Eh,
Fen. Lo uda kerjain LKS kimia belom?” tanya aku.
“Belom,
Ja. Gue baru tau ada PR Kimia.” jawab Fendy, salah satu sahabat aku di kelas
X-8.
Tapi
untungnya guru kimia namanya Bu Amti memberi kesempatan buat aku, uhhh !
Legaaaaa... dan thanks Allah. Semua ini ternyata ada yang menyebalkan dan
ada pula yang menyenangkan. Tetapi semua itu sudah dari Allah dan aku sangat yakin
semua kesulitan dan musibah, pasti ada kemudahan dan keselamatan.
Selanjutnya,
pelajaran yang paling santai atau enjoy dan sambil OL FB alias online
facebook dan juga sekalian update status deh, Hhahhah... Ialah TIK yang
kepanjangannya Teknologi Informasi dan Komunikasi. Huhuhuuy ketika masuk ke
ruang laboratorium TIK beeeh adeeemmnyaa ... Ada AC-nya tuh. Tapi, TIK kadang
ada efek sampingnya yakni pelajarannya sampai 3 jam, tapi no problem-lah
online (OL) juga 3 jam hhehehe.
Saat bel
pulang, aku sadar ada sesuatu yang hilang, apa yaahh? Aaaarrrrgh .. Ternyata flashdisk
aku hilang. Uuuhh, musibah datang lagi ke aku. Aku langsung ‘gelegah’ laboratorium
TIK bersama Pak TIK namanya Pak Totok, eeh gag ketemu juga yaah .. Akhirnya aku
pulang dengan hati yang sangat kesal. Uhh aku hanya bisa berdoa dan berusaha temuin
flashdisk aku yang hilang. Sebab isi flashdisk aku tuh semuanya
penting banget apalagi ada foto narsis aku tuh. Aku berharap Allah bisa kembaliin
flashdisk aku. Ya Allah berikanlah petunjuk agar aku bisa temuin flashdisk
aku, amin.
Hari
esoknya pukul 16.57 WIB di Atlantis, Ancol, ada kejadian yang paling aku benci
dan harus dilewati. Ketika aku berenang, aku dan kawan-kawan sepakat untuk
menyudahi acara renang. Aku sendiri bergegas ke kamar bilas untuk
bersih-bersih. Nah, ketika aku hendak mengambil handuk, aku sadar musibah datang,
ternyata dompet aku hilang.
“Kayaknya
ada yang hilang deh? “ pikir aku sambil membongkar isi ransel.
“Astaghfirullah!
Dompet gue hilang!” kata aku dengan cemas.
Tanpa
berpikir panjang, aku langsung pakai baju dan bergegas ke tempat tenda
kawan-kawan. Aku cerita kejadian yang aku alami sekarang pada kawan-kawan
termasuk sahabat aku, Latif. Latif bantuin aku bersama kekasihnya, Yuli alias
Kissi. Aku dan Latif bergegas ke tempat pusat informasi, aku lapor dengan
informator,
“Permisi,
Mbak. Saya mau lapor Mbak ada kehilangan barang saya.” kata aku dengan wajah
agak pucat.
“Oh,
adek kehilangan barang apa?” tanya informator.
“Saya
kehilangan dompet Mbak. Dompetnya persegi panjang dan warnanya coklat gelap.
Isinya ada kartu ATM BCA.” jawab aku dengan wajah bercucuran keringat.
“Baik,
Dek. Ntar saya umumin kehilangan barang adek.” kata informator sambil
bersenyum.
“Makasih
banyak ya, Mbak.” kata aku sambil tersenyum dengan nada agak rendah.
“Sama-sama,
Dek.” sahut informator.
Informator
itu mengumumkan ada kehilangan dompet. Suara pengumuman itu terdengar ke
penjuru pengunjung. Aku berharap semua pengunjung dapat menemukan dompet aku.
Kebetulan Latif ada ide, untuk mempercepat penemuan dompet aku, Latif bilang pada
aku,
“Ja,
lapor aja ke pos pengamanan biar gampang dapetin dompet lo.” kata Latif.
“Iya,
Ja. Biar cepet nemuinnye.” tambah Yuli.
“Bener
juga lo, yauda ayo buruan ke pos!” kata aku sambil menarik tangan Latif dan
lari menuju pos pengamanan.
Aku dan
Latif bersama kekasihnya bergegas ke pos keamanan Atlantis, aku lapor di pos sama
petugas keamanan alias Security alias Satpam bahwa aku kehilangan dompet.
Satpam itu minta keterangan sama aku, keterangan itu diantaranya nama aku dan isi
dompet. Aku jelaskan semua keterangannya.
“Saya
kehilangan dompet, Pak. Isinya tuh, ada uang cuma Rp. 50.000, terus kartu ATM
Bank BCA, kartu identitas Rumah Sakit Islam Jakarta, sama kartu pelajar saya,
Pak.” lapor aku pada satpam.
“Kamu
dari sekolah mana?” tanya satpam.
“Saya
dari SMAN 5 di Kemayoran.” jawab aku.
“Oh iya,
nomer hape kamu berapa? tanya satpam.
“083871027xxx.”
jawabku.
“Baik,
Bapak akan bantu kamu nyariin dompet kamu. Nanti kalo uda ketemu, Bapak ntar
telepon kamu. ” kata satpam,
“Baik.
Makasih ya, Pak.” ucapku sambil berjabat tangan dengan satpam.
Setelah itu pengaduan pun selesai, aku dan
Latif bersama Kissi balik ke tenda kawan-kawan. Aku mengambil tas dan langsung
pulang bareng kawan-kawan.
“Sumpaaaaah!
Gue kesal banget. Kenapa sih gue selalu ditimpa musibah dan cobaan. Udah
flashdisk gue hilang alias raib, dompet gue hilang, duit gue hilang, segalanya
hilang. Uhh.... Sampai kapan kalau gue kayak gini terus.” pikir aku dengan
wajah agak cemberut.
Pukul
17.35 WIB, aku pulang dan tiba di rumah, aku langsung cerita dengan Mama dan
Papa atas kejadian yang aku alami di Atlantis. Lantas Mama jadi ‘darah tinggi’.
“Ya
Allah, kenapa kok bisa hilang, Bang? tanya Mama dengan mata melotot. Mama dan
Papa terbiasa memanggil aku dari sejak kecil dengan sebutan Abang.
“Abang
juga gag tau, Ma. Dompet abang diambil orang pas abang lagi di kolam.” jawab
aku dengan wajah tertunduk. Nada agak rendah.
“Lain
kali Abang gag usah berenang lagi, pusing Mama dengerin Abang hilang barang
melulu.” kata Mama dengan wajah agak memerah. Logatnya dengan bahasa Melayu.
Astaghfirullah aku jadi stress tingkat tinggi
dan ingin bertekad untuk pergi merantau agar bisa lupain semua yang aku alami. Aku
berkata dalam hati “All is well” (semua akan baik-baik saja).
Langit
memerah dan matahari pun mulai terbenam. Tiba-tiba ada suara dari Rumah Allah
(Masjid) yang membujuk hatiku untuk menghadap Allah. Panggilan Allah telah
tiba.
Allaaaaaahu
Akbaaar ...
Allaaahuuu
Akbaar ...
Aku
bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, lalu aku bentangkan sajadah
dan menghadap Allah diawali niat dengan penuh khusyuk dan takut. Setelah
selesai menghadapNya, seraya aku berdoa dengan mengadahkan kedua tangan dan
wajah bercucuran air mata.
“Ya
Allah, kini aku sedang terpuruk dan mengharap padaMu ya Allah ... Janganlah
Engkau timpakan lagi musibah yang Engkau berikan pada aku, lihatlah aku yang
sedang sedih hati. Jika aku punya dosa sebanyak bintang bertaburan di langit
dan sebanyak buih di samudera, hanya Engkau yang dapat mengampuni dosa aku, sesungguhnya
Engkau Maha Penerima Taubat bagi hambaMu yang bertaubat dan hanya pada Engkau
aku kembali. Ya Allah kuatkanlah iman aku, tabahkanlah hati aku, berikanlah aku
kesabaran sebagaimana kesabaran Nabi Ayyub AS dalam ujiannya. Amin ya Rabbal
Alamin ....”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar